Sejarah GKJ Gandaria

Dalam Bentangan Sejarah GKJ, Dari Ketiadaan Menuju Saluran Berkat

Dari Benih Sampai Mimpi
Proses tumbuh dan berkembangnya GKJ Gandaria, tidak terlepas dari kebijakan GKJ Jakarta tahun 1985 dengan program kerja tahunannya yang dinyatakan dalam tema “Persekutuan wilayah sebagai basis kegiataan berjemaat”. Implikasi dari hal itu adalah munculnya kesadaran untuk berkegiatan di wilayah-wilayah yang semakin besar. Salah satu wilayah tsb. yang berada di sekitar Polonia, Cililitan dan Cijantung pun turut serta dalam dinamika kehidupan itu. Inilah cikal bakal GKJ Gandaria yang dulunya bernama GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D. Berikut ini simpul-simpul peristiwa yang menandai tumbuh dan berkembangnya GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D hingga menjadi GKJ Gandaria.

Dari kebutuhan Bersekutu
Semenjak wilayah dijadikan sebagai basis kegiatan berjemaat, sudah muncul kerinduan dari warga untuk memiliki tempat peribadahan sendiri. Hasrat ini diperkuat oleh letak geografis, dengan jarak yang demikian jauh antara tempat tinggal warga dengan GKJ Jakarta di Rawamangun. Kerinduan untuk memiliki tempat ibadah sendiri semakin menguat dalam benak warga. Akhirnya, pada tanggal 5 Februari 1987, pada saat persiapan Perjamuan Kudus untuk kelompok Cijantung dan sekitarnya di rumah Bpk. Subagio Wiriodharmoro, tercetuslah niat untuk mencari tempat yang bisa dipakai untuk beribadah bagi warga GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D. Dari beberapa alternatif tempat yang diajukan, akhirnya dipilihlah rumah tempat praktek Ibu dr. Kusumastuti Partono yang terletak di Jl. Cililitan Besar No. 87 Jakarta Timur sebagai tempat kebaktian. Sebelumnya, memang tempat itu sudah menjadi semacam pos bagi kegiatan-kegiatan warga. Kesepakatan itu kemudian disahkan dalam Rapar Pleno Majelis GKJ Jakarta pada Maret 1987. Kebaktian perdana di tempat itu dilaksanakan pada Minggu ke-3 (15 Pebruari 1987) yang dipimpin oleh Bp. Yahya Lasiman, anggota Majelis GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun C.

Meski telah memiliki tempat ibadah sendiri, namun kebaktian yang dilaksanakan masih belum rutin setiap hari Minggu. Sampai bulan April 1987, kebaktian masih dilaksanakan sebulan sekali pada Minggu pertama. Kemudian frekuensi kebaktian ditingkatkan menjadi 2x sebulan dalam rentang bulan Mei – Juni 1987, pada Minggu pertama dan ketiga. Barulah mulai bulan Agustus 1987, kebaktian bisa dilaksanakan rutin setiap minggunya. Pada tanggal 6 September 1987, Majelis GKJ Jakarta secara resmi menjadwalkan kebaktian hari Minggu di tempat ini, dan tempat ibadah tsb. ditetapkan sebagai “Tempat Ibadah Kramat Jati”. Walaupun sudah memiliki tempat ibadah sendiri, warga GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D, tetap rutin mengikuti kebaktian di Rawamangun, khususnya bila ada pelayanan sakramen, karena untuk sementara, sakramen belum bisa dilayankan di Tempat Ibadah Kramat Jati. Jadi, bila ada pelayanan sakramen di Rawamangun, kebaktian di Cililitan diliburkan. Barulah pada 11 Desember 1988, Sakramen Perjamuan Kudus dapat dilaksanakan di Tempat Ibadah Kramat Jati.

Awalnya, Tempat kebaktian Kramat Jati hanya menampung sekitar 20-an orang, namun makin lama makin banyak orang yang ikut serta dalam ibadah di tempat itu. Pembenahan mulai dilakukan. Untuk mengatasi kendala tata suara, Mas Kelik mengupayakan alat pengeras suara dari radio compo milik Mas Sigid Widodo. Karena ketika kebaktian, terutama pada saat pelayanan Sakramen, warga yang hadir sangat banyak, sampai luber keluar ruang ibadah. Untuk itu Mbah Wiryo (salah seorang warga) berinisiatif untuk membuat atap teduh, dan jumlah tempat duduk pun ditambah. Demikianlah setiap minggu semakin banyak orang yang ikut serta dalam kebaktian di Tempat Ibadah Kramat Jati.

Namun, perkembangan yang pesat tidak selalu menjadi hal yang menyenangkan. Dengan adanya tempat kebaktian di Cililitan itu, banyak warga masyarakat yang bertempat tinggal disekitarnya ikut kebagian rejeki. Namun disisi lain, dengan semakin banyaknya orang yang datang untuk kebaktian, makin banyak pula areal yang dibutuhkan sebagai tempat parkir kendaraan. Keadaan ini membuat kawasan itu menjadi macet pada saat usai kebaktian. Situasi inilah yang kemudian memunculkan suasana yang tidak nyaman bagi beberapa orang di sekitar tempat kebaktian. Juga ditambah dengan berbagai alasan lain, mulailah terjadi teror kecil-kecilan untuk mengusik ketenangan warga dalam beribadah. Mulai diletakkan sampah di depan pintu masuk tempat ibadah, sampai mendapat ancaman pembakaran tempat ibadah tsb.

Majelis GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D, kemudian memutuskan untuk memindahkan tempat ibadah ke Aula Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala, yang terletak di Jl. Inerbang No. 38 Condet, setelah mendapat persetujuan dari pihak pengurus yayasan. Kebetulan juga Mas Sigid Widodo (salah seorang pemuda GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D) bekerja di Rawinala. Kebaktian perdana di Rawinala dilaksanakan pada saat perayaan Natal Wilayah tanggal 23 Desember 1990. Dengan demikian berakhirlah riwayat Tempat Ibadah Kramat Jati, di tempat praktek Ibu dr. Kusumastuti Partono setelah dipergunakan sekitar empat tahun.

Kendati cukup jauh jarak antara tempat ibadah Rawinala dengan jalur kendaraan umum, namun hal tsb. tidak menyurutkan semangat warga untuk mengikuti kebaktian di Rawinala. Dan untuk memudahkan warga yang hendak beribadah di Rawinala, Ibu Rieke M. Matheus menyediakan beberapa opletnya untuk mengangkut warga dari Bulak Rantai sampai di Rawinala. Sayangnya, sejarah buruk kembali terulang. Karena semakin banyaknya warga yang beribadah di Aula Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala, muncullah usikan-usikan dari warga sekitar yang tidak begitu setuju dengan adanya tempat ibadah di situ. Kebingungan melanda, karena tidak tahu lagi akan berpindah kemana. Pada saat kegundahan ini memuncak, Majelis yang saat itu sedang mengadakan rapat rutin, mendapat informasi dari Pratu Sumpeno, seorang anggota militer, yang disampaikan pada Pdt. Hosea Sudarno, bahwa di dalam lingkungan Asrama Yonif 201 Jaya Yudha, Jl. Raya Bogor Km.28 Gandaria, terdapat fasilitas gedung gereja yang belum digunakan. Informasi ini kemudian ditindak lanjuti oleh Majelis. Kelegaan muncul ketika Komandan Yonif 201/Jaya Yudha mengijinkan GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D untuk menggunakan gedung gereja yang ada untuk kebaktian Minggu. Keputusan ini tertuang dalam Nota DanYonif 201/Jaya Yudha No. 0017/1/93 tanggal 2 Januari 1993. Pada tanggal 17 Januari 1993, GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D secara resmi menempati gedung gereja yang berada di lingkungan Yonif 201/Jaya Yudha sebagai tempat ibadah. Bahkan tidak hanya itu saja, Majelis juga diberi ijin untuk merenovasi gedung sehingga semakin memadai untuk menampung warga yang hendak beribadah.

Karena sudah memiliki tempat ibadah yang mapan, maka mulailah diadakan pembenahan-pembenahan dalam pelayanan. Hal ini didukung oleh tingginya semangat dari warga. Mungkin merasakan kelegaan setelah sekian lama terlunta-lunta tidak memiliki tempat ibadah yang tetap. Tiap Minggu, semakin banyak orang yang bergabung ikut meramaikan dinamika kehidupan berjemaat GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D. Dengan adanya tempat beribadah yang relative mapan, geliat semangat warga untuk berkegiatan juga semakin baik. Kelompok-kelompok mulai aktif mengadakan kegiatan Pemahaman Alkitab, Kebaktian Keluarga, Sarasehan,dsb. Semangat dan cita yang tadinya diarahkan untuk memiliki tempat ibadah sendiri, kini dialihkan untuk menuju kemandirian dan kedewasaan penuh. Semangat ini didorong oleh perkembangan yang cukup menggembirakan. Berkenaan dengan cita-cita tsb. pada tanggal 7 September 1997 Tim Visitasi TEPAT berkunjung ke GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D, untuk melihat kenyataan dan dinamika yang dilakukan dalam rangka menggapai tujuan itu. Hasilnya, sebagi tindak lanjut dari visitasi itu, pada sidang Pleno Majelis GKJ Jakarta tanggal 12 September 1997 memutuskan bahwa mulai Oktober 1997, GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D dinyatakan berstatus Prakelola Khusus.

Seiring dengan ditetapkannya status Pakelola Khusus itum mulailah diadakan pembenahan-pembenahan, baik Majelis, komisi-komisi, badan-badan untuk menata diri menuju kehidupan bergereja yang lebih baik. Setahun kemudian,statusnya meningkat menjadi “Pra Kelola Penuh”. Akhirnya setelah melalui proses yang panjang, pada tanggal 8 Juli 2000, GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun D didewasakan menjadi “Gereja Kristen Jawa Gandaria”. Mengiringi perjalanan berikutnya, ada 2 pendeta konsulen yang secara bergantian mendampingi yaitu Pdt. Hosea Sudarna S.Th dari GKJ Jakarta dan Pdt. Aris Widaryanto S.Th dari GKJ Pangkalan Jati.

Setelah 3 tahun mandiri, untuk mengoptimalkan pelayanan, maka dipanggillah seorang calon pendeta dalam diri Didik Christian Adi Cahyono. Setelah melalui masa perkenalan, orientasi dan pembimbingan, maka pada tanggal 14 – 15 Maret 2003 dalam ujian peremtoir Sidang Klasis Kontrakta GKJ Klasis Jakarta Bagian Timur, dinyatakan lulus dan layak untuk tahbis. Dan pada Sabtu Wage 12 Juli 2003, GKJ Gandaria secara resmi mempunyai seorang pendeta. Pentahbisan pendeta pertama ini dilakukan bersamaan dengan peringatan ulang tahun ke-3 GKJ Gandaria. Kemudian untuk membantu jemaat yang tinggal di wilayah Utara pelayanan GKJ Gandaria, pada tanggal 13 April 2008, GKJ Gandaria membuka pos pelayanan baru di Fakultas Tehnik Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Cawang. Terhitung sejak hari Minggu, tanggal 13 Desember 2009, Pos Pelayanan UKI di Cawang yang beralamatkan di Aula Fakultas Tehnik UKI, ditingkatkan statusnya menjadi Gereja Kristen Jawa Pepanthan Cawang.

Akhir kata, setelah perjuangan dan pergumulan yang teramat sangat panjang serta keyakinan akan penyertaan Sang Kepala Gereja, jerih payah yang dilakukan pasti tidak sia-sia.

(Sumber : GKJ Gandaria Dalam Bentangan Sejarah GKJ, Dari Ketiadaan Menuju Saluran Berkat oleh Didik Christian Adi Cahyono) 

Mobirise
KANTOR GEREJA
Anggota PGI

Kompleks Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha, Jl. Raya Bogor Km. 28, Gandaria - Jakarta Timur, Kode Pos - 13710 - Indonesia.


Kontak

Email: kantor@gkjgandaria.or.id
Phone: +62 (21) 871 7876
Fax: +62 (21) 871 7876

Links
Pertanyaan

Bagi Sahabat yang baru pertama kali beribadah dan apabila membutuhkan
pelayanan dapat menghubungi anggota Majelis yang terdekat atau ke kantor GKJ Gandaria. 

Mobirise.com