Hamba yang Lemah Lembut

Renungan Minggu I, 2 April 2023
Yesaya 50:4-9; Mazmur 118:1-2, 19-29; Filipi 2:5-11; Matius 21:1-11

Ketika masuk ke Yerusalem untuk kunjungan yang terakhir bersama murid-murid, Yesus memilih naik keledai untuk menggenapi nubuat nabi Zakaria. Raja biasanya mengendarai kereta kuda atau menunggang kuda. Yesus dan para murid biasa berjalan kaki ke mana saja, sekarang Yesus menunggang keledai yang lebih kecil dan lemah lembut, dibanding kuda yang adalah simbol kekuatan, kecepatan, dan kegagahan. Kedatangan Yesus ke Yerusalem menandakan bahwa Dia adalah Raja yang lemah lembut, sebagaimana nubuat Nabi. Makna lemah lembut di sini tentunya bukan berarti lemah dalam hal fisik, tetapi suatu sikap yang santun dan tidak kasar dalam tingkah laku.

Dalam Filipi 2:5-11, Rasul Paulus memahami pikiran dan perasaan Yesus ini dengan mengatakan bahwa Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba…Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati…” (ayat 7-8). Suatu karakter yang ditunjukkan Yesus sebagai hamba yang lemah lembut. Dengan mengosongkan diri, Yesus sampai pada taraf kesamaannya dengan manusia. Namun, Yesus tidak berhenti sekedar menjadi manusia, Dia melewati batas keberadaan manusia secara umum, dimana Yesus merendahkan diri serendah-rendahnya. Kerendahan hatinya itulah membawa ketaatanNya, bahkan taat sampai mati. KetaatanNya nampak selama hidupNya di dunia walaupun menghadapi tantangan yang mengancam maut Dia tidak mundur. KetaatanNya hanya kepada Allah Bapa.

Kesaksian Yesaya 50 : 4-9 menjelaskan penderitaan seorang hamba Tuhan. “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” (Yes.50:6). Namun, di tengah-tengah penderitaan yang dialaminya, hamba Tuhan tersebut memiliki lidah seorang murid, sehingga Ia mampu memberi semangat baru kepada sesamanya yang letih lesu. Itulah yang dialami Yesus yang memberikan teladan tentang kematangan spiritualitas saat menghadapi situasi yang paradoks. Kita diajak untuk tidak takabur saat dipuji dan disanjung, tetapi juga tidak putus asa dan runtuh langit kehidupan kita saat dikhianati atau ditolak. Sikap penguasaan diri akan membawa kita pada kemenangan iman.

Menjadi seorang hamba berarti kita dipanggil untuk melayani, baik melayani Tuhan maupun melayani sesama. Sebagai hamba yang lemah lembut, adalah tugas kita untuk melakukan dengan taat dan setia hal yang diperintahkan atau dikehendaki oleh Tuhan, Tuan kita. TS

JADWAL SAKRAMEN PERJAMUAN KUDUS TAHUN2022

  • Sakramen Perjamuan 1 : Minggu, 27 Februari 2022 (Minggu Transfigurasi)
  • Sakramen Perjamuan 2 : Minggu, 17 April 2022 (Minggu Paska)
  • Sakramen Perjamuan 3 : Minggu, 12 Juni 2022 (Minggu Trinitas)
  • Sakramen Perjamuan 4 : Minggu, 10 Juli 2022 (HUT Ke-22 GKJ Gandaria)
  • Sakramen Perjamuan 5 : Minggu, 2 Oktober 2022 (HPKD/HPII/BK)
  • Sakramen Perjamuan 6 : Minggu, 20 November 2022 (Minggu Kristus Raja)
KANTOR GEREJA
Anggota PGI

Kompleks Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha, Jl. Raya Bogor Km. 28, Gandaria - Jakarta Timur, Kode Pos - 13710 - Indonesia.


Kontak

Email: kantor@gkjgandaria.or.id
Phone: +62 (21) 871 7876
Fax: +62 (21) 871 7876

Links
Pertanyaan

Bagi Sahabat yang baru pertama kali beribadah dan apabila membutuhkan
pelayanan dapat menghubungi anggota Majelis yang terdekat atau ke kantor GKJ Gandaria. 

Drag and Drop Website Builder